HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

PKT Investasikan US$90 Juta untuk Konversi Gas

20 Nopember 2007 PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) berencana melakukan konversi bahan bakar dari gas ke batu bara. Untuk konversi ini diperkirakan butuh dana investasi sebesar US$90 juta.

"Kita sudah melakukan studi dan perhitungan untuk melakukan konversi bahan bakar dari gas ke batu bara. Namun, harus dimatangkan lagi diperkirakan dana yang dibutuhkan sampai US$90 juta," ungkap Direktur Utama PKT Hidayat Nyakman saat dihubungi Media Indonesia, Senin (19/11).

Lebih lanjut, Hidayat mengatakan dengan konversi ini perseroan mengharapkan akan ada penghematan pada lebih dari 20% biaya produksi urea. Pasalnya, bahan bakar merupakan salah satu faktor produksi pupuk urea yang saat ini memakai bahan gas. Saat ini, beban biaya untuk bahan bakar pabrik semakin meningkat seiring kenaikan harga gas alam.

Kendati begitu, Hidayat menambahkan sebenarnya PKT menginginkan konversi secara menyeluruh termasuk pada bahan baku. Namun, investasi ke arah itu masih sangat mahal karena hampir dua kali lipat investasi pabrik dengan bahan baku gas. "Bila pabrik dengan bahan baku gas dibutuhkan investasi sebesar US$400 juta, dengan bahan baku batu bara investasi untuk pabriknya bisa mencapai US$700 juta lebih," jelasnya.

Meski begitu, Hidayat menjelaskan pelaksanaan konversi menyeluruh baik bahan bakar maupun bahan baku ke batu bara akan menghemat 100% atau seluruh faktor biaya produksi. Seperti diketahui, saat ini seluruh kebutuhan bahan bakar dan bahan baku produksi urea menggunakan gas. Dengan kenaikan harga minyak dan gas dunia sudah tentu akan mendongkrak biaya produksi pupuk yang berujung pada kenikan harga urea.

Kendati begitu, Hidayat tidak mengatakan secara detil kapan persisnya pelaksanaan konversi baik bahan bakar ataupun bahan baku. Namun, untuk menuju ke arah itu, dia mengaku sudah melakukan berbagi perhitungan termasuk studi ke China. Ia meyakini dengan konversi ini akan menguntungkan perseroan. Soalnya, dengan besarnya deposit batu bara di Kalimantan sudah tentu akan memudahkan pasokan bahan bakar dan bahan baku urea ke pabrik. Berbeda dengan pasokan gas yang sejak beberapa waktu lalu tersendat akibat pemerintah lebih mengutamakan ekspor ketimbang pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Sebagai bagian dari Holding Pupuk Sriwijaya, saat ini PKT menjadi pemasok urea baik untuk kebutuhan subsidi maupun non subsidi. Berlokasi di sentra produksi gas yakni Bontang, pabrik ini memang tidak kesulitan memenuhi kebutuhan gasnya. Namun, dengan kenaikan harga gas sudah tentu akan mengurangi laba perusahaan.

Dengan lima unit produksi pupuk, PKT mampu memproduksi urea hampir tiga juta ton per tahun. Namun, kondisi pabrik saat ini terbilang tidak muda lagi, Kaltim I dan Kaltim II dibangun tahun 1984 berkapasitas 700.000 ton dan 570.000 ton per tahun. Sementara Kaltim III dibangun tahun 1989 dengan kapasitas produksi 570.000 ton per tahun. Unit produksi termuda di PKT adalah POPKA dan Kaltim IV yang dibangun 1999 dan 2002. Keduanya berkapasitas 570.000 per tahun. Dengan kondisi tersebut, peremajaan pabrik memang diperlukan apalagi kebutuhan urea bik subsidi maupun non subsidi dari tahun ke tahun semakin meningkat. (Toh/OL-2)