HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pemerintah Desak Pusri Percepat Gasifikasi Pabrik Pupuk

21 Mei 2008 Pemerintah mendesak PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) selaku induk perusahaan BUMN pupuk mempercepat proyek gasifikasi atau pengalihan penggunaan gas ke batu bara untuk energi pada pabrik pupuk guna efisiensi dan mengurangi penggunaan gas yang harganya terus meningkat.

Meneg Sofyan A Djalil dalam wawancara khusus dengan sejumlah wartawan di Bontang, akhir pekan lalu, mengatakan teknologi gasifikasi telah dipakai sejumlah negara untuk menghasilkan energi seperti di Afrika Selatan dan China. Bahkan China mampu melakukan gasifikasi sehingga menghasilkan bensin dari batu bara. ?Karena harga gas mahal sekali, Pak Wapres (M Jusuf Kalla) menyuruh (BUMN pupuk) mengganti (penggunaan gas untuk mesin boiler mereka) dengan batu bara, sehingga gas bisa dihemat dan Indonesia bisa ekspor lebih,? ujarnya.

Untuk itu, ia meminta PT Pupuk Kalimantan Timur menjadi proyek percontohan percepatan proyek gasifikasi, mengingat BUMN tersebut merupakan produsen pupuk terbesar dan dekat dengan sumber batu bara.

Sofyan optimis proyek gasifikasi memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan akan diminati investor, jika pabrik pupuk tidak memiliki dana dan membutuhkan pihak ketiga untuk mendanai proyek tersebut. ?Intinya lakukan studi (kelayakan), kalau layak, kita cari investornya, teknologinya ada, dan batu baranya ada di Indonesia. Kami minta dulu (sebagai proyek percontohan) PKT atau Grup Pusri melakukan studi,? ujarnya.

Ia yakin bila hasil studi menunjukkan proyek gasifikasi tersebut layak dilakukan dan menghasilkan keuntungan, maka investor terutama asing akan berminat. ?Ketika saya berkunjung ke Kuwait, mereka mengatakan kami punya sangat banyak uang. Kami siap (investasi) di Indonesia, tetapi mana proyeknya,? kata Sofyan.

Oleh karena itu, ia meminta pabrik pupuk yang akan melakukan gasifikasi melakukan studi kelayakan, kemudian menggunakan konsultan untuk membuat proposal proyek yang bagus, dan mencari investornya.

Sofyan mengatakan ada dua lembaga keuangan di Kuwait yang menyatakan siap investasi di Indonesia yaitu Kuwait Investment Agency dan Kuwait Investment House.

Sementara itu, Dirut PKT Hidayat Nyakman mengatakan proyek gasifikasi membutuhkan dana sekitar US$ 1 miliar ? US$ 1,5 miliar. Tahap pertama tahun ini pihaknya berencana membangun ?steam boiler? yang mengganti penggunaan gas untuk energi dengan baru bara.

Ia mengakui dengan kenaikan harga gas yang kini mencapai US$ 6,4 - 7 per mmbtu dari harga tahun lalu yang hanya US$ 3 - 4 per mmbtu, gasifikasi sangat penting.