HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pabrik Pupuk Patungan RI-Iran Difinalisasi 12 Desember

07 Desember 2007 Senin, 03 Desember 2007 15:09. Rencana pendirian pabrik pupuk hasil patungan PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) dan National Petrochemical Company of Iran (NPCI) yang akan diberi nama Hengam Petrochemical Company, akan segera difinalisasi pada Rabu, 12 Desember 2007 di Jakarta.

Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, di Jakarta, Senin, mengatakan, pihaknya akan bertemu dengan PT PUSRI untuk membahas soal investasi Pusri di Iran tersebut.

"Pusri meminta waktu untuk berkonsultasi dan menjelaskan tentang perkembangan investasi mereka di Iran," kata Sofyan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pusri, Dadang H Kodri, pada kesempatan yang sama, mengatakan, pihaknya perlu mendapatkan masukan dan saran dari pemerintah terkait finalisasi kerjasama dengan pabrik pupuk di Iran itu.

"Siang ini dari pihak Iran juga akan datang menghadap Menteri (BUMN)," katanya.

Ia mengatakan, rapat finalisasi pabrik pupuk hasil patungan bernama Hengam Petrochemical Company itu akan dilakukan pada Rabu 12 Desember 2007 mendatang.

Rapat tersebut merupakan pertemuan kedua setelah penandatanganan persetujuan kerjasama di Teheran beberapa waktu lalu.

Dalam rapat finalisasi rencananya akan dibahas soal pendanaan dan keuangan, jadwal melakukan pembangunan pabrik, serta ijin dari pemegang saham.

Industri pupuk hasil kerjasama dua negara ini, rencananya akan memproduksi pupuk urea dan amoniak dengan kapasitas produksi hingga 2.500 ton per hari.

Produksi pupuk perusahaan patungan itu nantinya sebanyak 50 persen disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri Iran sedangkan 50 persen lainnya akan diekspor termasuk ke Indonesia.

Realisasi pembangunan pabrik itu hingga kini memang masih terkendala sumber pembiayaan karena 30 persen dari ekuiti atau 70 persen pembiayaan harus dari pihak luar, dari 30 persen ekuiti ini dibagi 50:50 modalnya antara Iran dan Indonesia dengan total dana 600 juta dolar AS.

Dadang mengatakan, PT Pusri mengeluarkan dana internal hingga 97 juta dolar AS sebagai modal dan dibayarkan selama tiga tahun mulai dari pembangunan pabrik.

Menurut dia, dasar pertimbangan memilih Iran sebagai mitra pengembangan pabrik pupuk karena negara itu bersedia memberikan harga gas yang kompetitif di bawah 2 dolar AS per MMBTU, lebih rendah dari harga gas di dalam negeri yang saat ini 3,5 sampai 4 dolar AS per mmbtu.

"Sementara untuk operasionalnya dari penandatanganan kontrak hingga permulaan pembangunan kira-kira 36 bulan," demikian Dadang H Kodradi. (kpl/rit)