HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Invest Rp6T untuk Pabrik IIB

16 Pebruari 2012 PALEMBANG PT Pusri Palembang menyiapkan dana ivestasi Rp 6 trilliun untuk membangun pabrik IIB “karena investasinya besar, kami harus hati-hati memilih kontraktor. Pabrik yang di bangun harus bagus dan tahan 30 tahun,” kata Dirut Pusri Palembang Eko Sunarko saat menerima kunjungan manajemen Sumatera Ekspres di kantornya, kemarin.

Menurut dia, pihaknya sudah mengumumkan tender proyek pembangunan IIB yang merupakan revitalisasi. “Mudah-mudahan awal bulan depan tender sudah terlaksana. Kita mewajibkan konsorsium antara kontraktor lokal dan asing,” kata dia. Saat ini cukup banyak kontraktor yang sudah mendaftar. Agar tak salah pilih kontraktor, PT Pusri melakukan penyeleksian dengan melihat langsung pabrik yang sebelumnya sudah di bangun peserta.

“Target kami Desember sudah pemancangan (ground breaking) peroyek ini akan diselesaikan selama 3 tahun,” lanjut dia. Kata eko revitalisasi pabrik II menjadi IIB sudah sangat mendesak ini pabrik tertua di Indonesia, bahkan dunia.

“Konsumsinya bahan baku gas bumi untuk memproduksi pupuk urea sudah sangat boros. Padahal kita punya keinginan semua pabrik efisien, maka harus low cost production,” tambahnya. Konsumsi pabrik lama, lanjut Eko yakni Pusri II, Pusri III, dan Pusri IV mencapai 36 MMBTU per ton urea, sementara konsumsi gas pabrik baru hanya 25-26 MMBTU per ton. Ada selisih 10 MMBTU.

“Tahun 2013 harga gas bumi akan naik menjadi US$5,5 per MMBTU. Jadi US$55 akan hilang saja setiap konsumsi produksi urea per tonnya,” tambahannya. Belum lagi PT Pusri menghadapi banyak tantangan saat mengoperasikan pabrik lama. Ada saja masalahnya, begitu pabrik down, produksi tidak akan tercapai.

“Boleh down jika di rencanakan. Yang sulit jika unschedule, ini membuat target tak tercapai,” tuturnya. Makanya sekarang maintenance pabrik selalu dilakukan. Solusi lebih baik menuju low cost production dengan merevitalisasi pabrik. Eko melanjutkan, pihaknya juga menemui kendala dalam pendistribusian pupuk.

“Sungai Musi makin dangkal. Sehingga daya angkut kapal kita tidak bisa maksimal,” tegasnya Pihaknya berharap dengan proyek pelabuhan Tanjung Api-Api. Jika pelabuhan ini jadi, Pusri bisa mnggunakan kapal berkapasitas 30 ribu ton. “Kapal ini bisa bersandar disana. Lalu lintas ekspor pupuk ke Thailand atau Vietnam menjadi lancar saat Indonesia tak lagi memasuki musim tanam,” ttandas dia. (fad/cel)