HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Aman, Stok Pupuk di Jateng 42.967 Ton

12 Pebruari 2016

SEMARANG – Memasuki pertengahan bulan kedua di 2016, serapan pupuk urea bersubsidi di Jawa Tengah sudah mencapai 72.804 ton. Dengan memerinci 51.408 ton pada Januari dan 21.396 ton per 11 Februari 2016.

Untuk jumlah serapan masing-masing kabupaten/kota berbeda. Disebabkan saat ini pola tanam yang tidak sama dan musim tanam tidak serempak. Dari 35 kabupaten/kota, lima kabupaten dengan serapan tertinggi, Kebumen 5.311 ton, Brebes (5.198), Grobogan (4.618), Tegal (4.615), dan Pemalang (4.137).

Sementara Sragen dan Sukoharjo serapannya masih 136 ton dan 762 ton. Kepala Pemasaran PT Pusri Wilayah Jateng Sutisna mengatakan, saat ini stok urea bersubsidi sangat aman. Per 11 Februari 2016, alokasi stok sebanyak 42.967 ton dari ketentuan stok 30.366. ”Artinya stok pupuk 40 persen (12.601 ton) di atas ketentuan. Stok sangat aman.

Karena memang saat ini pola tanam tidak serempak,” kata Sutisna, Kamis (11/2). Alokasi stok pupuk saat ini sudah berada di gudang masing-masing kabupaten/ kota. Stok pupuk dengan jumlah tertinggi, Kabupaten Sragen 4.147 ton, Grobogan (3.498), Blora (1.775), Brebes (1.632), dan Tegal (1.544).

Curah Hujan

Melihat curah hujan yang merata pada awal 2016 ini, ia memperkirakan serapan pupuk pada tahun ini akan tinggi. Berbeda dengan tahun lalu, di mana 49.320 ton urea bersubsidi tak terserap disebabkan El Nino.

Musim kemarau yang lama membuat membuat petani kesulitan air saat akan tanam. ”Melihat kondisi seperti ini, saya ingin terus memastikan kalau stok pupuk aman,” ujarnya. Tahun ini, Jateng memperoleh alokasi pupuk urea bersubsidi 818.470 ton.

Jumlah ini lebih rendah dari 2015 sebanyak 822 ribu ton. Penurunan alokasi salah satunya disebabkan cukup banyaknya pupuk yang tak terserap pada 2015. Sebelumnya, Anggota Komisi B DPRD Jateng, Riyono mendesak Pemprov Jateng segera menyelidiki terkait rendahnya penyerapan pupuk bersubsidi oleh petani.

”Perlu dicek ulang kenapa tidak terserap, apakah memang sudah cukup atau karena pengajuan yang berlebihan, sejak lima tahun terakhir alokasinya pasti di atas 800.000 ton,” ungkapnya. (H81,J8-90)