HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Stok Pupuk Nasional Aman

20 Agustus 2007 Direktur Pemasaran PT Pusri, Bowo Kuntohadi, di Semarang, Selasa (14/8/2007), mengungkapkan ketersediaan pupuk tersebut dipastikan aman karena kapasitas terpasang dari lima produsen pupuk di Tanah Air yang masuk dalam PT Pusri (Holding) mencapai 8 juta ton.

Untuk rencana penjualan tahun ini, menurut Bowo, PT Pusri memiliki 6.698.997 ton yang disalurkan untuk sektor pertanian (pupuk bersubsidi) sebanyak 4,3 juta ton, sektor industri 562.126 ton, sektor perkebunan 590.907 ton, serta ekspor 724.000 ton, sehingga total penyaluran 6.177.032 ton.

Stok akhir yang ada saat ini sebanyak 521.965 ton, termasuk di dalamnya 200.000 ton stok pupuk bersubsidi yang disyaratkan oleh Permentan. Dijelaskannya, realisasi penyerapan urea bersubsidi untuk Januari-Juli tahun 2006 sebanyak 2.284.490 ton, sedangkan periode yang sama tahun ini sebanyak 2.363.330 ton. Tahun ini, urea yang tidak terserap sebanyak 332.760 ton.

Hal ini bukan akibat penyerapan yang turun, melainkan Permentannya yang naik. Ketersediaan stok juga terlihat pada posisi stok urea di Lini III atau kabupaten yang persentasenya jauh di atas ketentuan stok Permentan. Untuk Agustus tahun ini, misalnya, stok sebanyak 502.747 ton, sedangkan ketentuan stok Permentan hanya 129.000 ton, atau 390 persen.

Menurut Bowo, penyebab munculnya isu kelangkaan yang sering terjadi antara lain, pertama, karena pemakaian dalam satu bulan pada satu kabupaten melebihi SK Gubernur.

Itu terjadi karena dosis pupuk yang dipakai petani perhektare dalam suatu kabupaten tertentu lebih tinggi dari yang diperhitungkan dalam SK Gubernur dan produsen tak berani melanggar SK Gubernur tersebut. Solusinya, diatasi dengan menarik alokasi dari bulan-bulan di depannya. Risikonya, pada bulan berikutnya alokasi habis. Selanjutnya dapat dilakukan relokasi dari kabupaten yang penyerapannya rendah.

Kedua, kebutuhan suatu kabupaten yang sebenarnya lebih besar dari SK Gubernur dan produsen tak berani melanggar SK tersebut. Solusinya dengan relokasi antarkabupaten. Ada pula musim tanam yang maju dari bulan yang direncanakan, atau banjir yang menyebabkan pemakaian pupuk dua kali lebih besar dari yang seharusnya. Penyebab lain, adalah fanatisme petani pada merek tertentu. Sebenarnya pupuk ada, tapi karena petani lebih mencari pupuk merek tertentu, maka terkesan pupuk di suatu wilayah mengalami kelangkaan. Untuk ini, solusi diberikan dengan terus melakukan sosialisasi kepada para petani. Sedangkan penyebab munculnya isu harga pupuk di atas harga eceran tertinggi (HET), menurut Bowo, akibat pembelian petani yang membeli pupuk tidak dari pengecer resmi, dan membeli tidak dalam kemasan 50 kg, tidak membayar tunai, serta pembelian diantar langsung ke petani, padahal seharusnya diambil di kios pengecer. (avie prasetya/trijaya/mbs)