HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pemenuhan Gas Industri Diupayakan

04 Maret 2011 KEMENTERIAN Perindustrian meminta agar jatah pasokan gas untuk industri ditingkatkan dari proyeksi pasokan  tahun ini yang hanya 751 juta kubik perhari (mmscfd) dari total gas terkontrak 1.016 mmsfcd.
Permintaan itu akan dibahas dalam pertemuan antarinstansi yang melibatkan Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) pada awal pekan depan.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku prihatin dengan adanya kemungkinan penaikan harga gas untuk industri. Menurutnya, setelah masalah ketenagalistrikan menemukan penyelesaian positif, susutnya pasokan gas menjadi problem yang dihadapi industri selanjutnya.
" Gas yang terkontrak banyak digunakan untuk memenuhi kontrak asing. Pasokan gas tidak bisa memenuhi permintaan industri. Padahal, industri kita sedang tumbuh," ujar Hidayat, di Jakarta, kemarin.
Sejauh ini, lanjut dia, kepastian jadwal pasokan gas baru diperoleh untuk program revitalisasi industri pupuk, yaitu berupa head of agreement (HoA) Untuk Pabrik Pupuk Kaltim 5.
Selain itu, penjadwalan pasokan untuk pabrik pupuk lainnya, yaitu Petrokimia Gresik 2, Pupuk Kujang Cikampek 2, Pusri 2, dan Pupuk Iskandar Muda. Pabrik-pabrik tersebut dijadwalkan mulai mendapat gas pada 2012 dan 2014.
Sebelumnya, General Manager Strategic Business Unit I Jawa Barat PGN Hendy Kusnadi mengatakan pasokan gas untuk industri manufaktur pada 2011 akan turun 23,58% ketimbang 2010.
Berkurangnya pasokan itu di sebabkan dua hal, yaitu adanya permintaan dari perusaan minyak Chevron Pasific Indonesia untuk eksploitasi minyak. Kedua, penurunan alamiah dari sumur-sumur produksi pemasok gas seperti milik Pertamina Pagardewa, Lampung.
PGN juga bersiap menaikkan harga jual gas di tengah sinyal bahwa produsen migas akan menaikkan harga produk mereka.
Dalam menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal Forum Industri Pengguna Gas Bumi Achmad Widjaya mengatakan industri selalu siap membayar gas dengan harga keekonomian, yang menurutnya kini telah mencapai sekitar US$7,1 per milion british thermal unit. (Jaz/E-1)