HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Operasional Pabrik Pupuk Terganggu

25 Januari 2008 PT PKC meminta bantuan dari pabrik pupuk lainnya.

Teka teki kelangkaan pupuk urea bersubsidi yang dialami sejumlah daerah pertanian di Jabar, Banten, dan sebagian Jateng, mulai terjawab. Kelangkaan itu disebabkan operasional PT Pupuk Kujang di Cikampek, mengalami gangguan.

''Operasional pabrik harus dimatikan,'' kata Manajer Komunikasi PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC), Arifin kepada Republika, Kamis (24/1). Ganguan itu, menurut dia, terjadi di luar dugaan.

Menurut Arifin, menghadapi musim tanam yang serempak di ketiga provinsi tersebut pada Januari-Februari 2008, PT PKC berupaya terus memenuhi kebutuhan urea untuk petani. Upaya itu antara lain dilakukan dengan meningkatkan pasokan distribusi, baik dari hasil produksi harian maupun dari gudang pabrik dan gudang lini III kabupaten.

Saat kondisi pabrik lancar, kata Arifin, PT PKC dapat melakukan pendistribusian rata-rata 3.600 ton urea per hari, yaitu dari dua pabrik sekitar 2.600 ton dan sebesar 1.000 ton dari stok gudang pabrik. ''Namun, saat pabrik sedang dipacu untuk memperoleh produksi yang maksimal, terjadi hal di luar dugaan yaitu adanya gangguan operasi dan pabrik harus dimatikan,'' ujar dia menjelaskan.

Pabrik lama (Kujang 1A), ungkap Arifin, berhenti dan mengalami perbaikan selama lima hari terhitung dari 15-19 Januari 2008. Konsekuensinya, PT PKC harus kehilangan potensi produksi sekitar 5.000 ton. ''Namun saat ini, pabrik Kujang 1A sudah dapat beroperasi kembali,'' tuturnya.

Tak berselang lama setelah perbaikan pabrik Kujang IA, tutur dia menambahkan, gangguan kembali terjadi pada pabrik Kujang I B yakni sejak 22 Januari 2008. ''Namun Insya Allah, besok (25/1, red) pabrik Kujang I B dapat beroperasi kembali,'' tambahnya. Tidak dijelaskan penyebab gangguan teknis yang melanda pabrik Kujang I A dan I B itu sehingga harus berhenti berproduksi.

Arifin mengakui dengan adanya kendala teknis tersebut, stok pupuk di gudangnya terus berkurang. Karena itu, tutur Arifin, PT PKC meminta bantuan dari pabrik pupuk lainnya yang berada dalam satu holding sebesar 17.500 ton. Batuan itu dimintanya dari PT Pusri sebanyak 15.500 ton, PT Pupuk Kaltim sebanyak 1.000 ton, dan PT Petrokimia sebanyak 1.000 ton.

Bantuan tersebut, kata dia, akan datang dalam dua tahap yaitu pada akhir Januari 2008 sebanyak 7.000 ton dan sisanya sejumlah 10.500 ton pada awal Februari 2008. Bantuan pasokan ini, akan memperkuat posisi stok untuk mengatasi kebutuhan petani di lapangan.

Berdasarkan data dari PT PKC terlihat bahwa kondisi stok pupuk urea yang ada saat ini sebanyak 16.267,48 ton. Persediaan itu terdiri dari stok di pabrik sebanyak 8.323,70 ton dan stok di gudang lini III kabupaten sebanyak 7.943,78 Ton.

Sedangkan pada 23 Januari 2008, PT PKC melakukan distribusi pupuk urea dengan volume sebanyak 4.317,00 ton ke wilayah-wilayah tanggung jawab PT PKC. Rinciannya, Kabupaten Indramayu mendapatkan distribusi sebanyak 783 ton, Bandung 435 ton, Sukabumi 289 ton, Cirebon 219 ton, Garut 259 ton, Ciamis 206 ton, Majalengka 187 ton, Sumedang 126 ton, Bogor 146 ton, Subang 145 ton, serta daerah-daerah lainnya.

Dengan alokasi seperti itu, pasokan pupuk urea di Kabupaten Sukabumi, Cirebon dan Indramayu hingga kini masih seret. Volume pupuk urea yang beredar di lapangan masih jauh di bawah kebutuhan petani.

''Pupuk urea masih menghilang di pasaran, padahal petani sangat membutuhkannya di masa tanaman sedang tumbuh,'' ujar Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sukabumi, Maman Suparman. Kondisi ini diyakininya bisa berdampak sangat buruk.

Kelangkaan pupuk ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tak bertangung jawab untuk mengedarkan pupuk palsu. Kenyataan ini terjadi di Kabupaten Cirebon dan Sukabumi. Pupuk yang diduga palsu itu merupakan jenis pupuk majemuk NPK (natrium, pospat dan kalsium).