HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

BUMN Tuntut Kejelasan Subsidi

19 Mei 2008 BUMN pupuk nasional menuntut kepastian dana tambahan subsidi pupuk yang belum disetujui pemerintah dalam skala keekonomian sebesar Rp15 triliun.

Jika tidak terpenuhi, kerugian yang mengancam sebesar Rp7,2 triliun karena produsen harus menalangi dana itu. Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk (PKT) Hidayat Nyakman menjelaskan, produsen telah terbebani sejumlah kenaikan harga bahan baku impor,gas,dan biaya transportasi. Semua faktor itu berpengaruh terhadap patokan HPP (harga pembelian pemerintah) pupuk bersubsidi. ? S e t e l a h kami kalkulasi dan melakukan sejumlah analisis, Rp15 triliun itu adalah angka minimalis.

Angka itu bahkan bisa membengkak kalau kami melakukan beberapa perubahan strategis,? kata Hidayat ketika dikonfirmasi, kemarin. Tambahan anggaran urea bersubsidi pada tahun ini diperhitungkan mencapai Rp 7,2?7,5 triliun.Suntikan dana sangat dibutuhkan untuk menutupi harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi Rp 1.200 per kg.Ini bila merujuk pada harga internasional yang telah melambung di atas Rp4.000 per kg. Pada saat yang sama,dana subsidi pupuk pemerintah hanya dialokasikan Rp7,8 triliun dalam APBN-P 2008.

Saat ini, harga pupuk internasional telahmelonjakdiatasUSD434 per ton yang didorong oleh kenaikan harga bahan baku berupa amoniak yang sejak Januari 2008 melonjak 115% menjadi USD 475 per ton. Kini,harga amoniak internasional telah mencapai USD 550 per ton sehingga memicu kenaikan biaya produksi sejumlah BUMN pupuk.Kenaikan harga amoniak tersebut terjadi akibat lonjakan harga gas dunia yang mencapai USD12 per juta Btu (british thermal unit) dan harga minyak mentah di pasar dunia yang terus naik hingga mencapai USD126 per barel.

Kenaikan harga gas itu secara langsung membuat harga kontrak PKT dengan produsen gas seperti Chevron dan Total ikut berubah.Harga gas yang dibayarkan PKT,kata dia, sudah naik sekitar 40? 50% menjadi USD 5,5? 6,3 per juta Btu dari harga sebelumnya antara USD3?4 per juta Btu.Kondisi itu berpotensi meningkatkan harga pupuk internasional. ?Ke n d a t i kontrak kami masih panjang, harga tetap berlaku fluktuatif sesuai patokan harga amoniak ekspor,urea ekspor,dan harga minyak internasional.Kami juga terimpit biaya transportasi dariBontangke Semarangyang membengkak dari Rp 100.000 per ton menjadi sekitar Rp130.000 per ton,?katanya.

Direktur Utama Petrokimia Gresik (Petrogras) Arifin Tasrif mengungkapkan, pemerintah pasti akan mementingkan subsidi pupuk yang diajukan produsen. Subsidi ini merupakan tulang punggung sektor pertanian nasional. ?Kita tinggal menunggu saja keputusan dari pemerintah, dan keputusan itu pastilah yang terbaik,? ujar Arifin saat dikonfirmasi, kemarin. Selain subsidi, lanjut Arifin, sistem pengelolaan produksi pupuk juga perlu mengalami perbaikan sehingga efisiensi bisa dicapai. ?Apakah teknik pencampuran atau kegiatan produksi lain yang disederhanakan agar tidak mubazir,?katanya.