HALO PUSRI 0800-12-000-11
Mass Media

KORBANKAN MILIARAN RUPIAH DEMI SI PELAYAN SETIA

December 30 ,2013
pic323A6AA176F8537E5D44644B440B1C25.jpg
Sudah 12 tahun Sungai Musi mendangkal. Selama itu pula, kinerja distribusi PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) Palembang tak maksimal. Pendangkalan yang memicu biaya angkut tinggi, membuat pabrik tua itu pun terus berpotensi merugi. 

Mampukah Pusri melawan pendangkalan Musi? Sebagai satu-satunya jalur distribusi yang digunakan dalam kurun waktu 54 tahun terakhir, sungai sepanjang 750 kilometer (km) itu sejatinya memang telah menjadi urat nadi penyaluran pupuk PT Pusri. Melalui sungai yang membentang kota Palembang itu, Pusri hingga kini mampu memenuhi kebutuhan pupuk urea untuk petani ke berbagai penjuru negeri.  

Sayang di tengah perjalanan, Musi nyatanya tak bisa menjadi pelayan yang setia bagi keluar masuknya pupuk-pupuk yang dibutuhkan para petani. Masalah pendangkalan kedalaman alur Musi di sekitar dermaga dan ambang luar (Muara Sungsang) yang semakin parah terus menjadi masalah klasik. Ibarat penyakit, gejala ini semakin membuat keuangan Pusri tak nyaman.  

“Masalah ini sudah lama mengganggu, karena isi kapal angkut berkurang, setahun Pusri bisa kehilangan sampai 250.000 ton. Kerugiannya bisa dihitung sendiri,” ujar Direktur Utama PT Pusri Palembang, Musthofa, pada Peringatan HUT Pusri ke-54, 10 Desember lalu. Hal ini juga dibenarkan Sekretaris Perusahaan PT Pusri, Zain Ismed.  

Menurutnya, pendangkalan di sekitar alur Sungai Musi memang memicu terjadinya dead freight (potensi kerugian) bagi Pusri. “Ada dead freight (potensi kerugian) sampai 1.500–2.000 ton tiap satu kali angkut. Jadi memang tidak efisien,” ujarnya. Dead freight mau tak mau harus ditanggung Pusri sejak belasan tahun silam, karena kapal- kapal kecil pengangkut urea curahnya hanya mampu mengangkut 6.000–7.000 ton pupuk.  

Alhasil, kapasitas angkut normal kapal existing milik Pusri yang mencapai 8.500 ton, selalu gagal diisi penuh. Usia kapal yang sudah di atas 30 tahun juga semakin melengkapi masalah. “Kapalnya tidak bisa diisi penuh 8.500 ton karena sungai dangkal. Jadi, selalu sisa 1.500 –2.000 ton, gara-gara ini biaya angkutnya naik. Kalau tadinya selesai diangkut tiga kali, sekarang harus empat kali. Jelas ada dead freight. Kalau dipaksakan bisa tenggelam,” tuturnya.  

Sejak pendangkalan itu mengganggu, tak banyak yang bisa dilakukan pabrik pupuk urea tertua di Indonesia itu. Alternatif pilihannya hanya mengurangi tonase pupuk yang diangkut, agar kapal bisa masuk Dermaga. Inefisensi pun menjadi PR lama yang tak berkesudahan. Hingga suatu hari Pusri akhirnya memilih ikut patungan untuk melakukan pengerukan bersama beberapa BUMN, seperti Pertamina dan PT Bukit Asam agar kapasitas angkut kapal kembali normal, sekaligus meminimalisasi dead freight yang terjadi. Pengerukan itu mulai dilakukan sekitar tahun 2000-an.  

Tak tanggung-tanggung, setiap tahun tak kurang Rp5 miliar digelontorkan Pusri untuk mengurangi potensi kerugian akibat pendangkalan yang terjadi. Sayang, upaya dan pengorbanan finansial yang tak sedikit itu tak banyak membantu karena hasil pengerukan tak sesuai yang diharapkan. Kondisi inilah yang membuat Pusri akhirnya menghentikan kerja sama pengerukan. Karena tak ada jalan lain, Pusri pun harus kembali memutar otak untuk mencari strategi.  

Sementara menanti jalan keluar baru, Pusri pun harus mengeluarkan biaya transportasi ekstra untuk tetap melancarkan distribusinya dengan kapal- kapal kecil mereka. Pembiaran pendangkalan Sungai Musi oleh pemerintah membuat peningkatan biaya aktivitas ekonomi pabrik ini semakin menjadi-jadi. “Kerugian itu ada, yang pasti ongkos angkut kami naik menyebabkan biaya produksi ikut naik. Kalau biaya produksi sudah naik tinggi, kita jadi susah bersaing di pasaran. Itu juga menjadi ancaman,” ujarnya.  

Sebagai perusahaan strategis, Pusri tak mau lagi tinggal diam. Mereka pun mulai mencari cara dan strategi melawan perubahan alam ini. Tanggung jawab atas ketersediaan pupuk untuk ketahanan pangan nasional, pun menjadi beban sekaligus motivasi. Setelah melakukan, Pusri akhirnya tak mau lagi melakukan pengerukan. Pusri memilih cara baru melawan pendangkalan Musi yang terus terjadi.  

Melalui proses tender di pertengahan tahun 2012, tepatnya pada tanggal 10 Desember, akhirnya PT Pusri melakukan penandatanganan kontrak kerja sama dengan PT Anggrek Hitam (Batam) untuk membuat kapal angkut khusus yang bisa tetap mengangkut pupuk urea sampai kondisi pendangkalan paling kritis di Sungai Musi. Mulai hari itu, dibuatlah Kapal Self Proppelled Urea Barge (SPUB) yang dinamai menjadi PUSRI INDONESIA – I. 

Kapal itu kini jadi satu-satunya harapan dan senjata Pusri melawan pendangkalan Musi. Kapal ini didesain sangat handal meski alur sungai memiliki draf sangat rendah. “Pusri mengeluarkan 14,9 JutaDolaruntukmembuatkapal flat bottomini,” ujar Project Control pembangunan Kapal SPUB, Puji Lestario baru-baru ini. Puji mengatakan, kesepakatan manajemen menciptakan desain kapal angkut model ini bukan tanpa alasan. 

Pendangkalan yang sudah dirasa semakin mendesak mau tidak mau memaksa Pusri menyiapkan sarana distribusi baru yang mumpuni. Apalagi, produksi Pusri yang saat ini mencapai 1,3 juta ton per tahun akan meningkat tajam seiring rampungnya proyek pabrik lini II tahun 2015. “Pusri itu punya 7 kapal urea dan amoniak, tapi hampir semua kapal itu berusia tua terutama kapal amoniak. Kalau tidak dibuatkan kapal SPUB ini, nanti kalau pabrik Pusri II B produksi, kapal existing ini bisa keteteran mendistribusikan pupuk,” ujarnya. 

Untuk itu, sebelum Pabrik II B Pusri rampung tahun 2015, kapal SPUB ini kata Puji harus sudah siap dioperasikan lebih dulu. Selain andal melewati alur dangkal, kapal ini juga bisa menghemat biaya distribusi PT Pusri dibandingkan Pusri harus menggunakan alternatif lain semisal jalur darat. Dengan spesifikasinya yang tangguh di alur dengan draf rendah, SPUB ini menjadi harapan baru untuk mengamankan kendala shipping out dalam distribusi urea dari pusat produksi Palembang. 

Meliputi wilayah distribusinya, yakni Sumsel, Jambi, Bengkulu, Babel, Lampung, Banten, DKI, DIY, dan Jawa Tengah. Efisiensi pun menjadi sangat mungkin dilakukan dengan optimalisasi muatan kapal. Dengan kapal PUSRI INDONESIA – I baru ini nanti, pupuk urea yang dapat diangkut bisa mencapai 8500 ton, meski alur kedalaman Musi dan sekitar dermaga hanya mencapai 4,2 meter (kedalaman paling kritis atau terjelek). 

Demikian halnya saat air sedang pasang, kapasitas angkut SPUB bisa jauh lebih besar mencapai 11.000 ton pupuk. Dengan kapal baru ini, Pusri otomatis tidak perlu khawatir lagi soal pendistribusian, karena kapasitas angkut sudah bisa mengimbangi target produksi ke depan mencapai 2,1 juta ton. Keamanan ketahanan pangan pun bukan lagi jadi persoalan mengganggu. “Kapal ini mampu mengatasi pendangkalan sampai 15 tahun. Setelah kurun waktu itu, perubahan pasti ada lagi. Sampai November 2013, progres SPUB ini sudah mencapai 63,3%” tuturnya. 

Untuk menanggulangi imbas pendangkalan, Pusri tak hanya mengandalkan kapal baru itu saja. Berbagai upaya lain termasuk mengajak masyarakat sekitar pabrik menanam bambu di bantaran sungai juga terus mereka galakkan. Untuk upayanya yang satu ini, sejak 2013, tak kurang sepanjang bantaran Sungai sudah ditanami bambu, dengan harapan dapat mengurangi abrasidi sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). 

Selain itu, Pusri juga tetap melakukan pengerukan rutin terutama di daerah dermaga, di mana putaran lumpur cenderung cepat menumpuk dari waktu ke waktu. Terpisah, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Palembang (Adpel) Henry Tondang mengakui, pendangkalan memang terjadi di beberapa titik di alur Sungai Musi. Terutama di Muara Sungsang (ambang luar) yang menjadi pertemuan air sungai dan laut atau yang mereka kenal sebagai titik C2 dan C3. 

Selain di lokasi tersebut, beberapa pendangkalan baru juga terpantau mereka, seperti di daerah Upang dan Pulau Payung. Pendangkalan di titik ini diakuinya mulai cukup mengganggu keluar masuk kapal terutama saat air sedang surut. Tingginya pendangkalan ini membuat kapalkapal yang akan masuk ke pelabuhan harus dipandu agar tidak terjebak dan kandas. “Pendangkalan itu memang adadanpalingrawandiC2danC3. Kita menyebutnya ambang luar atau Muara Sungsang. Pendangkalan di sini sampai 2 meter. Makanya terus kita keruk, cuma itu dia dana kita kanterbatas. Pengerukan hanya bisa dilakukan setahun sekali,” ucapnya. 

Kuatnya arus pertemuan dari Banyuasin ke muara Sungsang membuat sedimentasi di bagian ini masuk kategori sedimentasi tingkat tinggi. Pendangkalan pun sering terjadi karena adanya penumpukan lumpur. Lumpur dan kotoran sampah ini terbawa dari daratan, baik berupa sampah biasa, partikel tanah, maupun kayu gelondongan. Akibatnya, kedalaman alur sangat tergantung dengan pasang surut air laut. 

Akibat pendangkalan ini kapalkapal yang hendak masuk ke pelabuhan pun diakuinya harus bisa menyesuaikan jadwal dengan kondisi pasang surut Musi. “Supaya pendangkalannya jangan semakin parah perlu kerja sama semuanya. Jangan menggunduli tanaman dan buang sampah di sungai. Karena kalau kapal industri sudah tidak masuk lagi, kita bisa merugi semuanya,” ungkapnya.


KOMALASARI Palembang