HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Sambangi Pusri, SMN Maluku Utara Ajak Siswa Difabel

11 Agustus 2016

PALEMBANG – Rombongan Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Ternate dan Tidore Provinsi Maluku menyambangi PT Pusri Palembang. Namun dari sekian siswa yang ikut, dua diantaranya merupakan penderita cacat (Difabel). Kedua siswa difable itu yakni Wendi Lumatunia yang mengalami disable penglihatan dan Haryanti Do Arifin mengalami difabel IQ di bawah rata-rata.

“Ada 20 orang siswa yang ikut. Dua siswa difabel dari SMA dan SMK Maluku Utara. Ini pertukaran siswa dari Sumsel ke sana, namun kali ini yang dari Maluku Utara datang kesini. Mereka kesini untuk belajar mengenal di Pusri. Jadi nanti mereka ke pabrik dan dermaga untuk mengetahui proses produksi secara umum dan langsung. Ini dilakukan dengan harapan supaya anak-anak terbuka wawasannya, ternyata Indonesia sangat kaya. Rasa cinta tanah air bertambah. Jangan wawasan di tempatnya saja,” ujar Manager PKBL PT Pusri, Dian Permatasari seusai menerima rombongan, Rabu (10/8).

Dikatakan, para rombongan SMN asal Maluku Utara ini akan ditempatkan di wisma Pusri. Mereka diagendakan mengunjungi Masjid Agung SMB II, BKB, Alquran Raksasa Gandus, Museum Balaputradewa, Monpera, Pulau Kemaro, serta mencicipi makanan khas Palembang, pempek.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Maluku Utara, Drs H Ruslan Mustafa MSi, membenarkan ada dua siswa difabel yang ikut rombongan.

“Satu siswa bernama Wendi Lumatunia yang mengalami difabel penglihatan, dan satu siswi bernama Haryanti Do Arifin mengalami difabel IQ di bawah rata-rata. Memang sesuai perintah pusat yakni Kementerian BUMN, agar setiap provinsi mengikutsertakan dua dari siswa luar biasa. Selama ini mereka bisa menyesuaikan karena mereka berdua ini masing-masing ada pendamping. Wendi pendampingnya Pak guru. Haryanti pendampingnya Ibu guru,” jelas Ruslan Mustafa.

Dikatakan, rombongan SMN telah dua hari di Bukitasam Tanjungenim dan tadi malam tiba di Pusri. “Kita banyak mengambil pelajaran, jangan hanya mengenal di daerah sendiri. Kesannya di sini, walau baru satu malam, lumayan. Biasanya di Maluku Utara itu kan daerahnya kecil. Paling berkeliling hanya 42 km. Semua lewat laut. Ini dari Bukitasam ke Pusri saja sudah lumayan jauh. Disisi lain kita rasakan menyenangkan. Kalau tidak ada program BUMN mungkin tidak bisa mengenal sejarah Sriwijaya,” ujar Ruslan yang juga Ketua Tim SMN Maluku Utara ini.

Ruslan juga menyebutkan, antara Kota Palembang dan Ternate memiliki hubungan. “Kuburan Raja Palembang Sultan Mahmud Badarudin ada di Ternate. Pada tahun 1986-1987 itu kuburannya sempat diminta dibawa ke Palembang sini. Tapi pemerintah setempat tidak mau karena akan merubah sejarah. Tapi akhirnya itu dipugar,” kata Ruslan.

Dikatakan, banyak manfaat siswa mengikuti SMN ini, dari bisa mengenal Sumsel, melihat pendidikan di Bukitasam, hingga mengenal daerah orang dari sisi pariwisata. “Kewajiban siswa buat laporan. Sebelumnya mereka diseleksi utusan dari 20 sekolah. Mereka diminta membuat karya tulis 500 kata. Mereka ini merupakan siswa pilihan yang masuk peringkat 5 besar. Mereka dipilih karena pandai dan pintar, tapi orangtuanya tidak mampu. Kita juga akan meminta mereka perjalan mereka selama disini sampai kembali ketempat di Maluku Utara nanti,” pungkasnya.(Dee)