HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Siapkan US$2 Miliar

13 Desember 2011 TABANAN, Bali : PT Pupuk Sriwidjaja Holding tengah menyiapkan dana sekitar US$ 2 miliar untuk merealisasikan pembangunan tiga unit pabrik pupuk urea.

Dari tiga pabrik itu, dua diantaranya akan memanfaatkan pasokan gas daro Ladang Cepu, Jawa Tengah dimana satu pabrik mengambil lokasi di Bojonegoro (milik PT Pupuk Kujang Cikampek) dan satu pabrik lainnya berlokasi di Gresik (milik PT Petrokimia Gresik). Kedua pabrik ini akan didesain memiliki total kapasitas terpasang 1,7 juta ton urea per tahun dengan kebutuhan dana investasi US$ 1,2 miliar.

Selain dua pabrik itu, Pusri Holding juga sedang menyiapkan pendanaan pembangunan satu pabrik lagi yang akan dibangun di Sumatera Selatan. Pabrik ini adalah milik PT Pupuk Sriwidjaja Palembang. Proyek tersebut masih dalam penjajakan awal dan diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 2.500 ton urea per tahun yang akan ditopang oleh pabrik amoniak dengan kapasitas yang sama. Total nilai proyek ini deperkirakan mencapai US$800 juta termasuk fasilitas pendukung.

Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja Holding, Arifin Tasrif menjelaskan proyek pembangunan pabrik urea di Bojonegoro dan Gresik itu dimaksudkan untuk menghemat biaya transportasi pengangkutan pupuk ke Jawa Timur. “Pembangunan dua pabrik urea di Bojonego dan Gresik akan mampu menghemat biaya transportasi hingga US$60 juta per tahun,” ujar Arifin pada akhir pecan lalu, disela-sela panen raya padi dalam Program Gerakan Peningkatan Produksi Pertanian berbasis korporasi (GP3K) di Tabanan, Bali.

Menurut dia, selama ini, Jawa Timur yang merupakan salah satu sentra produksi beras nasional memperoleh pasokan urea dari pabrik PT Pupuk Kaltim di Bontang atau PT Pusri Palembang, Sumatera Selatan, sehingga biaya transportasinya cukup mahal yang harus ditanggung pemerintah sebagai bagian dari subsidi pengadaan pupuk untuk tani.

Selain alasan penghematan, proyek pembangunan pabrik tersebut juga merupakan bagian dari program peremajaan sejumlah pabrik tua yang tingkat produktivitasnya sangat rendah serta boros dalam konsumsi gas.

Pabrik Tua
Saat ini, terdapat setidaknya empat pabrik yang sudah tua berusia diatas 20 tahun sehingga harus diganti yakni satu pabrik milik PT Pupuk Kujang Cikampek, dua pabrik milik PT Pusri Palembang, dan satu pabrik tua milik PT Pupuk Kaltim.

Khusus untuk PT Pupuk Kaltim, segera memulai proyek pembanguan pabrik Kaltim V menyusul adanya kepastian pasokan gas alam selama 10 tahun. Pabrik baru ini akan menggantikan unit pabrik Kaltim I yang dibangun sekitar 1970.

“Kebutuhan pupuk khususnya urea di dalam negeri maupun dunia dari tahun ke tahun semakin besar, oleh karena itu kapasitas terpasang nasional harus terus ditambah untuk memperkuat ketahanan pangan.”

Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman manambahkan pendanaan pembangunan pabrik pupuk tersebut akan menggunakan dana internal sekitar 30%, sedangkan sisanya dari pinjaman perbankan. “Kami berharap pinjaman itu bias dipenuhi oleh Bank Nasional.”

Secara terpisah, Menteri Perindustrian M.S. Hidayat menjelaskan industri pupuk merupakan salah satu sektor yang menjadi prioritas ppemerintah untuk dikembangkan, disamping industri gula dan petrokimia. “Khusus untuk pabrik pupuk, pemerintah merencanakan untuk membangun hingga enam unit pabrik pupuk NPK dan merevitalisasi enam pabrik pupuk yang sudah tua,” ujar Menteri.

Arifin mengaku optimis proyek pembangunan dua pabrik pupuk urea di Bojonegoro dan Gresik dapat direalisasikan pada 2012 mengingat pemerintah dan BP Migas sudah berkomitmen mengalokasikan cadangan gas Cepu untuk memenuhi kebutuhan pabrik pupuk urea di dalam negri. “Jika pada tahun depan sudah ada keputusan soal alokasi gas, maka proyek dapat langsung dimulai dan pada tahun 2015 pabrik sudah mulai beroperasi. Yang pasti kami sudah menandatangani memorandum of understanding dengan Exxon Mobile Indonesia.”

Kebutuhan gas untuk dua pabrik pupuk baru di Bojonegoro dan Gresik mencapai sedikitnya 170 juta standar kaki kubik per hari.