HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Pertahankan Pabrik Lama

02 September 2010 PALEMBANG, RP - PT Pusri masih berkomitmen untuk terus menjalankan pabriknya di Sumsel. Bahkan rencananya, pabrik lama akan dipercanggih dengan teknologi super modern untuk memproduksi produk turunan urea.

Demikian dibeberkan Direktur SDM dan Umum PT Pusri Djafarudin Lexy S disela-sela gelar acara buka bersama masyarakat sekitar Pusri di halaman Masjid Al Aqobah kemarin. “Kita akan tetap pertahankan pabrik lama, karena nilai sejarahnya tidak bisa dihapus,” katanya singkat.

Salah satu upaya akan dilakukan, dengan melakukan revitalisasi seluruh pabrik yang ada berteknologi supermodern yang diimpor dari luar. “Meskipun kita punya pabrik tempat lain, disini bisa tetap kita optimalkan memproduksi produk lain seperti jenis chemical lainnya hasil turunan urea”, ungkapnya.

Dengan teknologi baru itu diharapkan akan bisa dimaintenance lebih efisien dan tidak lagi banyak tersedot di biaya operasional pemeliharaan pabrik seperti sekarang ini. Dari sisi eksistensi pengembangan coor bisnis pun menurutnya akan sangat menguntungkan. Sebab, persiapan prioritas lain seperti pabrik di Iran, pabrik pupuk NPK baru, juga masih proses semua. Belum ada prioritas yang bisa diandalkan. Iran lantaran ini komitmen government to government (G to G) hingga sekarang masih ngadat dan belum diteruskan.

Dana menjadi faktor utama terhambatnya investasi di Iran ini, aku Lexy, dan saat ini masih dikaji ulang. “Meskipun pusat memberikan kelonggaran, namun masih butuh pengkajian lebih detail khusus sistem pendanaannya.”

Demikian juga pembuatan pabrik NPK disini, pun masih terkendala market setting, jadi target sebelumnya akhir tahun ini tuntas, kemungkinan akan molor lagi tahun depan dikaji ulang.

Menurut dia, memang delimatis, jika pabrik didirikan namun pasarnya masih belum jelas dari sisi perhitungannya. Karena dari sisi biaya, pemenuhan bahan baku lokal dengan kapasitas di atas 6.000-7.000 ton belum bisa dipenuhi dan masih harus impor yang notabene harganya sangat mahal. “Lagi-lagi kalau dihitung dari sisi benefit, belum layak, karena jika produknya dalam volume kecil, biayanya akan lebih mahal. Oleh sebab itulah pertimbangan sisi bisnis kita akan perbesar marketnya dulu, agar berimbang dengan cost produksi yang dikeluarkan,”tandasnya. Termasuk kajian brand marketingnya harus dimatangkan lagi. Jangan sampai tambah pabrik bukan malah eksis tapi malah tambah beban.

“Makanya saya cenderung mengedepankan pembuatan produk turunan urea di produksi nantinya agar nilai tambahnya ada dan harganya lebih mahal,” pungkasnya. (ayu)