HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Harapkan Izin Pemerintah

21 Agustus 2009 PALEMBANG, SRIPO-PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) berharap pemerintah memberi izin untuk melakukan ekspor pupuk uera, karena stok di gedung milik Pusri maupun Holding melimpah. Penumpukan terjadi akibat rendahnya penyerapan karena musim kemarau dan efisiensi perusaahan perkebunan akibat krisis ekonomi yang belum pulih.

“ Pusri sebagai induk holding telah mengusulkan persoalan ini kepada pemerintah.Namun, hingga hari ini belum ada jawaban atau tanggapan dari pemerintah. Jumlah stok pupuk urea yang ada di gudang di seluruh Indonesia itu mencapai 1,3 juta ton, padahal kebutuhan setahun 140 ribu ton, “ jelas Direktur Produksi PT Pusri, Indra Jaya ditemui usai acara penyerahan bantuan paket Ramadhan di Gedung Serba Guna, Rabu (19 / 8).

Indra Jaya mengatakan walau stok pupuk berlebih, namun Pusri tidak akan menghentikan produksi pupuk Urea, bahkan keempat pabrik tetap berjalan seperti biasa. Guna mengatasi ketiadaan gudang untuk menyimpan pupuk, pihaknya perpaksa melakukan openstorage di alam terbuka, salah satunya di halaman pabrik.

Diperkirakan penyerapan pupuk akan terjadi bulan Oktober nanti, asalkan tidak terjadi perubahan musim. Lambatnya penyerapan pupuk tersebut, kata Indra disebabkan karena faktor musim tanam yang mundur, ditambah lagi berkurangnya permintaan dari perkebunan dan industri akibat krisis ekonomi. Dikatakan Pusri akan bersinergi dengan BUMN-BUMN supaya membantu penyerapan pupuk.

Menurut Indra penumpukan stok pupuk menimbulkan cost pemeliharaan yang harus di tanggung Pusri karena harus menyewa gudang, membeli terpal, dan biaya lainnya. Belum lagi kerugiaan akibat losses yang di timbulkan karena kemasan rusak, di samping kualitas pupuk akan berkurang jika enam bulan tidak di gunakan.

Berdasarkan data Sripo, PT Pusri pernah mengajukan izin ekspor di tahun 2006 lalu karena pupuk urea yang melimpah. Namun pemerintah memberi izin dan membuka keran ekspor pupuk urea kepada Pusri dan holding tahun 2007. Ekspor yang di lakukan dengan tujuan negara-negara di Asia seperti Filipina, Vietnam, RRC, dan beberapa negara lainnya dengan besar ekspor 170 ton. Di pertengahan tahun 2007, keran ekspor kembali di tutup pemerintah karena saat itu kebutuhan pupuk dalam negeri kembali tinggi.