HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Diminta Tetap Di KEK TAA

02 Maret 2011 PALEMBANG, RP- Alasan tersebut disampaikan langsung oleh Dirut Pusri Palembang Eko Sunarko usai meminta saran dan konsolidasi ke Gubernur mengenai hasil survei investor Yordania membangun Pabrik Phosporic Acid bersama Pusri. Pabrik NPK bakal ditetapkan di Tanjung Carat (depan kawasan TAA). Dipilihnya wilayah tersebut dengan alasan kedalaman laut mencapai 18,5 meter.

Namun, ternyata sebaliknya Gubernur malah tetap meminta Pusri berada di kawasan TAA juga sudah masuk KEK. Dengan alasan ada lokasi yang memiliki kedalaman lebih bagus mencapai 24 meter.

Untuk memastikan lokasi ini, pihak Pusri bersam investor bakal melakukan penyelesaian Feasibility Study (FS) lebih dahulu. Bila memang dinyatakan benar-benar layak akan langsung ditindaklanjuti.

Satu-satunya yang menjadi pertimbangan Pusri memilih kawasan baru adalah kedalaman laut. Diharapkan bisa dilewati oleh kapal hingga 40.000 DWT. Dengan kapal besar, nilai ekonomis akan muncul.

“Kami sudah cukup jenuh dengan kondisi Sungai Musi saat ini, karena kapasitas kapal tinggal 5.000 ton saja yang bisa mengangkut. Semakin memperbesar cost operasional perusahaan yang sudah tua ini,” imbuhnya.

Ia berharap, kawasan baru membawa harapan baru yang lebih baik lagi sehingga tidak kembali menajdi beban operasional perusahaan di masa mendatang. Apalagi pabrik baru di TAA ini bakal menggunakann gas dari batubara, teknologinya juga cukup mahal jila ingin mencontoh yang digunakan Cina.

Artinya, memang benar-benar harus dihitung seefisien mungkin, tanpa mengurangi kualitas produk yang dihasilkan.

Targetnya tahun ddepan bisa dimulai jika FS selesai, sehingga bisa terjadi percepatan produksi. Gubernur juga meminta, ke depan Pusri bisa membuat pabrik khusus untuk memenuhi kuota impor.

Negara-negara berkembang berbasis pertanian seperti Thailand memiliki animo cukup besar atas kebutuhan pupuk. Ini akan menjadi alternatif kesempatan emas bagi Pusri untuk terus mempertahankan eksistensinya.

“Sayang sekali bila cost yang kita keluarkan dengan kondisi pabrik lama selam ini, dalam hitungan per 10 tahun. Alokasinya hampir sama dengan membangun satu pabrik baru, triliunan yang terbuang sehingga Pusri benar-benar dituntut bergerak cepat, imbuhnya. (ayu)