HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Dapat Pasokan Gas 10 Tahun

10 Agustus 2009 PALEMBANG, KOMPAS-PT Pupuk Sriwidjaja mendapat kepastian pasokan gas selama 10 tahun. Hal itu menghilangkan kekhawatiran tentang nasib pabrik pupuk urea karena terancam tidak mendapatkan pasokan gas. Demikian diungkapkan Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Dadang Heru Kodri, Jumat (7/8), seusai mengikuti rapat percepatan pembangunan Pelabuhan Tanjung Api-Api di Griya Agung.

Dadang mengungkapkan, pabrik pupuk Pusri II, III, dan IV sudah mendapat kontrak pasokan gas selama lima tahun dan sedang diupayakan untuk ditambah. Adapun pabrik puuk Pusri IB sudah mendapat kontrak pasokan gas selama 10 tahun. "Kami membeli gas dengan harga pasar, yaitu 3,6 dillar AS per juta British Thermal Unit (MMBTU). Jangan disangka Pusri beli gas dengan harga murah, Pusri tidak meminta-minta gas," kata Dadang.

Menurut Dadang, Pusri tidak bisa membeli gas dengan harga lebih murah karena kalau tawaran Pusri terlalu rendah, justru Pusri akan ditinggalkan oleh pemasok gas. Dadang mengatakan, pasokan gas untuk Pusri diperoleh dari Pertamina dan Medco. Pusri membutuhkan sebesar 225 juta standar kaki kubik gas (MMSCFD) per hari. Menurut Dadang, perbandingan pasokan gas dari Pertamina lebih banyak dibandingkan dengan Medco, yaitu 3 berbanding 1.

Pabrik baru
Mengenai rencana pembangunan pabrik Pusri yang baru di kawasan Tanjung Api-Api, Dadang mengatakan, PT Pusri tetap mempertahankan pabrik yang sudah ada sekaligus mengembangkan pabrik baru. Dadang menuturkan, rencana pembangunan pabrik baru di Tanjung Api-Api harus dibicarakan dulu dengan pemegang saham."Kapasitas pabrik baru yang efisien adalah 3.500 ton per hari," kata Dadang.

Dadang menambahkan, investasi untuk satu pabrik baru menelan biaya 600 juta dollar AS. Pembiayaan ini berasal dari PT Pusri dan dari pihak perbankan. Namun perbankan akan meminta jaminan pasokan gas selama 20 tahun. dadang mengatakan pihaknya belum mendapat izin dari pemegang saham sehingga belum bisa dipastikan kapan pembangunan pabrik baru dimulai.

Percepatan Proyek
Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Suamtera Selatan Johaner Toruan menuturkan, pada tahun 2011 diharapkan proyek Tanjung Api-Api dapat dimulai dan tahun 2014 dapat beroperasi. Investasi yang dibutuhkan untuk membangun rel kereta api, pelabuhan, dan kawasan industri sekitar Rp.72 triuliun.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengutarakan, proyek itu perlu dipercepat karena akan mengakhiri macetnya pembangunan infrastruktur di Sumsel. Rapat itu dihadiri delapan bupati/wali kota dan perwakilan yang wilayahnya masuk dalam proyek. Seluruh kepala daerah menyatakan mendukung proyek tersebut. (WAD)