HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Bangun Pabrik NPK

08 Desember 2014

JAKARTA, RP – PT Pupuk Sriwidjaja tengah melakukan pengembangan usaha dengan membangun satu pabrik pupuk majemuk yang mengandung unsur nitrogen, fosfor dan kalium atau NPK. Pusri yang berkantor pusat di Palembang, Sumatera Selatan ini selama ini hanya fokus memproduksi pupuk urea dan amonia.

 

Manajer Hubungan Masyarakat Pusri Sulfa Ganie mengatakan, perusahaan pelat merah di bidang industry pupuk ini kini berupaya melakukan pengembangan kegiatan usaha dengan membangun satu unit pabrik pupuk NPK dalam kapasitas produksi 100 ribu ton per tahun. Manajemen perusahaan, kata dia, beruapa terus melakukan pengembangan kegiatan usaha untuk meningkatkan daya saing perusahaan serta menigkatkan pendapatan. Sehingga dapat berkembang lebih besar dan kesejahteraan karyawan terjamin.

 

Selain mengembangkan kegiatan usaha, kami pun terus berupaya melakukan peningkatan kapasitas produksi pupuk urea. Khusus peningkatan kapasitas produksi pupuk urea yang menajdi bisnis utama Pusri,” ungkap Sulfa dalam rilis yang diterima koran ini, pada Selasa (2/12).

 

Pusri, lanjut Sulfa, secara bertahap memprogramkan proyek revitalisasi empat pabrik yang dimiliki sekarang ini yang usianya sudah tua, atau diatas 36 tahun dan kurang efisien. “Saat ini sedang dilaksanakan proyek revitalisasi atau penggantian satu pabrik dari empat pabrik pupuk yang kondisinya paling tua, yakni pabrik Pusri II yang dibangun tahun 1974,” tulisnya.

 

Proyek revitalisasi pabrik yang telah dilakukan sejak pertengahan 2013 itu, kata dia, saat ini telah mencapai sekitar 70 persen. Diharapkan semua kegiatan pembangunan pabrik baru, yakni pabrik pupuk NPK dan pupuk urea bisa selesai sesuai target.

 

Berdasarkan perkembangan pembangunan pabrik pupuk NPK dan pabrik urea proyek revitalisasi itu, diprediksi bisa selesai sesuai target, yakni akhir 2015. Sehingga sudah mulai melakukan kegiatan produksi untuk memenuhi kebutuhan petani dalam negeri, terutama di sembilan rayon provinsi, meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta ekspor.” Pungkasnya.(ers/jpnn)