HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Bangun Dua Pabrik Kapasitas 2 Juta Ton

22 Juni 2011 PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) berencana membangun dua pabrik besar di Jawa Timur, dengan kapasitas dua juta ton per tahun, untuk memenuhi kebutuhan pupuk urea provinsi tersebut, di samping Jawa Tengah.

Jakarta,BP

Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) Arifin Tasrif di Jakarta, Selasa (21/6), mengatakan, saat ini kebutuhan pupuk urea untuk Jawa Timur dan Jawa Tengah masih sebagian besar atau sekitar 1,8 juta ton dipasok dari Kalimantan Timur dan Palembang.

Dua pabrik baru tersebut, lanjut Arifin, rencananya akan dibangun di Gresik, lokasi pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik, dan Cepu. "Jadi satu pabrik dibangun dekat dengan sumber gas," ujar Arifin.

Pihaknya berencana membangun dua pabrik dengan kapasitas masing-masing sekitar satu juta ton urea pertahun atau sama dengan pabrik terbesar, Kaltim V, yang akan dibangun PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) pada Juli 2011 di Bontang.

"Kami perkirakan dengan adanya pabrik baru itu kelak, kami bisa menghemat produksi 50 juta dolar per tahun, serta biaya pengapalan dari Kaltim dan Palembang. Selain itu, ada kepastian pasokan pupuk untuk petani di Jatim dan Jateng karena tidak ada lagi hambatan pengiriman akibat ombak tinggi dan cuaca buruk," kata Arifin.

Arifin mengatakan, Pembangunan pabrik pupuk tersebut juga perlu untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan pupuk seiring dengan kenaikan populasi penduduk peningkatan produksi pangan.

"Kita harus melakukan antisipasi jangka panjang. Pabrik baru itu juga kelak bisa mengantisipasi pabrik pupuk yang sudah tua," katanya.

Pabrik yang sudah tua, kata Arifin, sampai masa berakhir operasinya, bisa dimanfaatkan untuk ekspor, sedang pabrik baru untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Menanggapi pertanyaan mengapa pembangunan pabrik baru justru di Jawa, bukan di luar Jawa, Arifin mengatakan, peluang dan nilai strategisnya ada di Jawa.

"Jawa masih memiliki pasokan gas dan jumlah penduduk padat, dan area sawahnya besar," katanya. Oleh karena itu, Arifin mengharapkan pemerintah memrioritaskan pasokan gas untuk pabrik pupuk yang memakai gas untuk bahan baku.

"Kalau untuk energi bisa gunakan yang lain seperti batubara dan panas bumi. Namun untuk pabrik pupuk, gas merupakan bahan baku. Jadi mohon prioritaskan gas untuk industri pupuk guna menopang ketahanan pangan," katanya.

Arifin bahkan mengatakan, pabrik baru tersebut telah menghitung kemungkinan harga gas senilai enam dolar per mmbtu, dan dengan harga gas sebesar itu, maka pihaknya masih bisa mendapatkan penghematan biaya produksi 50 juta dolar AS pertahun. ant/mik