HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri akan Pailitkan Sri Melamin

01 Pebruari 2013 PALEMBANG (IFT) - PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang berencana mempailitkan salah satu anak usahanya, PT Sri Melamin Rezeki (SMR) karena tidak kunjung meraih keuntungan. SMR merupakan produsen kristal melamin yang memiliki pabrik berkapasitas 20 ribu ton per tahun. Zain Ismed, Sekretaris Perusahaan Pusri Palembang, mengatakan sejak berdiri pada 1991 hingga berhenti beroperasi pada 4 November 2008, SMR hanya mencatat keuntungan pada 2003 sebesar Rp 52,78 miliar. “Keuntungan lebih banyak dikarenakan memperoleh manfaat dari depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari sekitar Rp 2.500 menjadi Rp 17.000 per dolar AS,” kata dia, Rabu.

SMR merupakan perusahaan patungan antara Pusri dengan PT Lumbung Sumber Rezeki dan PT Kairos Estu Niaga dengan bahan baku dari Pusri. Menurut Zain, sejak 2008 Pusri mulai menurunkan pasokan bahan baku urea secara bertahap hingga 30% hingga SMR berhenti beroperasi. Penghentian pasokan bahan baku karena utang SMR sudah mencapai Rp 130 miliar. Perseroan juga memiliki kewajiban pajak Rp 2,74 miliar, utang karyawan Rp 1,42 miliar dan pemegang saham Rp 9,52 miliar. Bahkan SMR juga memiliki utang di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar US$ 32,34 juta selaku kreditur preferen. “Logikanya saja tidak mungkin jika perusahaan terus merugi akan dipertahankan untuk beroperasi, dampaknya pasti menganggu finansial perusahaan induk, apalagi milik negara,” ung kap dia.

Hari Poernomo Sekretaris Perusahaan PT Pupuk IndonesiaHolding Company(PIHC) menilai Pusri tidak mungkin memaksakanSMR berproduksi karena akan menganggu kinerja Pusri. “Industri melamin juga sudah tidak lagi prospektif, sehingga tidak ada alasan untuk Pusri melanjutkan usaha patungan,” kata dia. Menurut Hari, perseroan sudah meminta SMR untuk mengadakan RUPS dan melengkapi laporan karena sejak 2009. Serta mengusulkan agar ada pemeriksaan khusus dari Badan PemeriksaanKeuangan (BPK) dan Kantor Akuntan Publik untuk mengaudit SMR. “Karena kerugian secara kumulatif sudah sangat besar dan merugikan Pusri yang merupakan perusahaan milik negara,” kata dia.

Pusri tahun ini menganggar kan belanja modal 2013 senilai Rp 4,42 triliun. Selain untuk investasi rutin, mulai tahun ini Pusri juga mengalokasikan belanja modal untuk investasi pengembangan usaha . Musthofa, Direktur Utama Pusri Palembang, mengatakan Pusri memasukkan investasi pengembangan karena tahun ini mulai membangun pabrik baru, yakni Pusri II B. Serta membeli kapal baru untuk distribusi pupuk. Kapal baru buatan dalam negeri ini akan mampu mengangkut 8.500-10.000 ton urea. Sementara itu kapal-kapal lama hanya mampu mengangkut maksimal 7.000 ton urea.

Musthofa mengatakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menyetujui besaran belanja untuk investasi pengembangan sebesar Rp 2,5 triliun, sementara investasi rutin hanya Rp 1,92 miliar. Selain itu lanjut dia, perseroan juga tengah mengembangkan pabrik baru Pusri IIB dan pembelian kapal urea, dana pengembangan juga digunakan untuk pembangunan Pabrik NPK. Musthofa menambahkan angka Rp 2,5 triliun merupakan bagian dari nilai total investasi pengembangan senilai Rp 8.1 triliun karena proyek itu lazimnya berlangsung 33 bulan. Pembangunan pabrik Pusri II B mulai efektif pada 7 Februari mendatang. “Pabrik baru dapat beroperasi pada Desember 2015, hari efektifnya bulan depan akan tetapi segala persiapan dan uji kelayakan sudah berlangsung lama,” ungkap dia. (*)