HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pendangkalan Sungai Musi

22 April 2014
pic2575217FAD7F9ACC66A7888834C6CD4F.gif

Pusri Luncurkan Kapal Tongkang Khusus

PALEMBANG, KOMPAS – PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, Sumatera Selatan, Meluncurkan kapal tongkang khusus pengangkut pupuk guna mengatasi pendangkalan sungai musi. Selama 15 tahun ini, pendangkalan Sungai Musi bertambah prah sehingga mengurangi daya angkut kapal hingga sekitar 25%.

 

kapal khusus pengangkut pupuk urea dengan jenis Self Propelled Urea Barge (SPUB) itu diluncurkan dari galangan kapal perusahaan pembuatnya di Batam, Kepulauan Riau, pertengahan pekan lalu, kapal tersebut dinamai Pusri Indonesia I.

 

Sekeretaris Perusahaan PT Pusri Palembang M Zain Ismed mengatakan, kapal khusus itu mempunyai lambung datar sehingga tetap dapat mengangkut dengan kapasitas maksimal di perairan dengan kedalaman 4,2 meter. “Kapal ini berkapasitas 8.500 metrik ton dan dirancang tetap dapat mengangkut dalam kapasitas maksimal saaat memasuki Musi,” katanya, di Palembang, Minggu (20/4).

 

menurut Zain, saat ini terdapat 14 lokasi pendangkalan di sungai musi dari hulu hingga dermaga Pusri Palembang. Di beberapa lokasi pendangkalan, kedalaman air berkisar 4 meter, padahal kapal Pusri yang berlambung membutuhkan kedalaman air 6 meter untuk berlayar dengan kapasitas angkut maksimal.

 

Akibat pendangkalan, kapasitas angkut kapal dikurangi dari 8.500 metrik ton menjadi sekitar 6.500 metrik ton. “Itu pun baru bisa masuk musi saat pasang,” Kata zain.

 

Ke depan, Pusri Palembang berencana mengganti semua kapal yang berjumlah tujuh kapal menjadi jenis SPUB. Total dana yang dianggarkan sekitar Rp.180 miliar.

 

Zain mengatakan, pendangkalan Musi semakin parah sejak 15 tahun lalu atau sejak terhentinya pengerukan berkala yang dilakukan konsorsium perawatan alur sungai Musi. “Konsorsium itu terdiri atas para pengguna alur sungai Musi, termasuk perusahaan-perusahaan di tepi sungai Musi. Sejak 15 tahun lalu tidak ada lagi, entah apa penyebabnya,” kata dia.

 

Kondisi ini dinilai merugikan karena meningkatkan biaya angkut berbagai produk yang dikirim dari dan ke Sumsel. Dampaknya juga meningkatkan harga barang dari dan ke Sumsel sehingga produk daerah itu kian sulit bersaing dengan produk dari daerah lain. Hingga saat ini, sungai Musi menjadi jalur distribusi berbagai produk Sumsel, di anataranya karet, batubara, Minyak dan Sawit.

 

Kepala kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Palembang Henry Tondang, mengatakan, tahun ini tidak ada pengerukan di alur Sungai Musi karena kondisinya dinilao masih layak untuk berlayar.

 

Tahun lalu kami sudah melakukan pengerukan di ambang luar dan tahun ini hanya dilakukan perawatan. Kondisi Sungai Musi masih layak untuk berlayar. Hal ini bisa dilihat dari kapal di dermaga umum belum terganggu,” kata Henry. (IRE)