HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Panen Tembus 9,8 Ton Per Hektare

18 Maret 2014
pic5FB38CA2469CC8A954556B9CF9059F96.gif

 PT. Pusri Intensif Bina Petani Maksimalkan Produktivitas Padi

 

Wonogiri – Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) di Wonogiri yang dimotori PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang (PUSRI) terbukti mampu mendongkrak produksi gabah petani.

 

Sebelum dibina PUSRI melalui GP3K, petani anggota Kelompok Tani Sido Mulyo di Kelurahan Gesing, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, hanya bisa menghasilkan enam ton gabah setiap hektar. Namun, setelah mendapat binaan GP3K, produktivitas gabah naik drastis antara 8,1 ton hingga 9,9 ton per hektare.

 

Sebelum mendapat binaan dari kami, petani menggunakan pola pemupukan kurang tepat, yakni dengan dosis Urea 250 kilogram per hektare dan pupuk kandang seadanya. Kemudian, melalui GP3K, kami membina petani dalam pola pemupukan. Yakni memakai dosis Urea 150 kg, NPK 300 kg, dan Organik 500 kg,” kata Direktur PT PUSRI Musthofa di sela-sela acara panen raya di Kelurahan Gesing yang dihadiri Menteri BUMN Dahlan Iskan, kemarin siang (14/3).

 

Hasilnya, produksi gabah meningkat tajam. Yakni dari sekitar 6 ton per hektare menjadi 8,1 ton per hektare. Bahkan, ada yang mencapai 9,8 ton per hektare. Lonjakan produktivitas gabah itu merupakan imbas dari bagusnya tanaman padi yang mendapatkan pola pemupukan yang tepat. Dia kemudian mencontohkan padi varietas Mikongga di lahan 96 hektare yang dikelola 125 petani anggota Kelompok Tani Sido Mulyo Kelurahan Gesing. Padi yang ditanam 11 Desember lalu dengan pola tanam jajar legawa dan sistem pengairan irigasi teknis itu tumbuh sangat baik. Rata-rata, setiap rumpun memiliki anakan antara 22 batang hingga 30 batang. Jumlah bulir padinya pun padat. Yakni antara 165 biji hingga 186 biji. “Dengan pola pemupukan dan pengelolaan yang tepat, produktivitas padi terbukti mampu dinaikkan,” tambahnya.

 

Dia kemudian mengatakan, 125 petani anggota Kelompok Tani Sido Mulyo Kelurahan Gesing merupakan bagian dari 611 petani pemilik 282 hektare sawah di Kismantoro yang mendapat binaan dari PUSRI melalui GP3K.

 

Keseluruhan, di Wonogiri PUSRI membina 1.898 petani yang mengolah 1.066 hektare sawah. Rinciannya, Kecamatan Tirtomoyo (152 ha/ 274 petani), Kismantoro (282 ha/ 111 petani), Eromoko (349 ha/ 502 petani), Wuryantoro (96 ha/ 92 petani), Ngadirojo (93 ha/ 221 petani), Jatiroto (51 ha/ 111 petani), dan Slogohimo (43 ha/ 87 petani).

 

Manajer Humas PT. PUSRI Sulfa Ganie mengatakan GP3K dihelat pemerintah sejak 2011 lalu. Semula, PT PUSRI hanya mendapat wilayah binaan Sumatera Selatan dan Lampung. Kemudian, pada 2012, wilayah binaan PT.PUSRI ditambah satu yakni Jawa Tengah. Lantas, mulai tahun 2013, wilayah binaan PT. PUSRI diperluas menjadi delapan provinsi sesuai dengan wilayah rayon penyaluran pupuk bersubsidi. “Pada 2013 dan 2014 ini, wilayah binaan GP3K kami delapan provinsi. Yakni Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jogjakarta, Banten, Bangka Belitung, Jambi dan Bengkulu. Tahun 2014 ini, luasan lahan penugasan kami 300 hektare,” katanya.

 

Usai memanen padi binaan GP3K PUSRI, Meneg BUMN Dahlan Iskan menyerahkan banyak bantuan dari PT. Pupuk Indonesia (yang didalamnya terdapat PT. PUSRI dan perusahaan pupuk milik negara lainnya) untuk petani. Bantuan itu di antaranya adalah ternak kambing dan sarana produksi pertanian lainnya. Dahlan juga sempat dibuat kaget dengan keluhan petani mengenai banyaknya kepiting disaluran irigasi yang membuat aliran air ke sawah terjegal.

 

Ternyata, untuk mengatasi kepiting itu cukup mudah. Yakni dengan membuat jus buah pace (mengkudu) yang kemudian dihanyutkan ke saluran irigasi. Resep itu dibeli Dahlan Rp 2 Juta dari Giyatmo, petani Desa Miri, Kecamatan Kismantoro untuk dibagikan kepada petani lainnya. Sedang terkait peningkatan produktivitas padi menjadi 9, ton per hektare, Dahlan mengatakan itu merupakan hal baik. Tapi, itu belum maksimal. Dia ingin GP3K mampu menjadikan produktivitas padi menjadi 12 ton/hektare. “Saya minta GP3K membina secara khusus lima hektare di Miri dan lima hektar di Gesing agar padinya bisa 12 ton per hektare.” Kata Dahlan. (aw/sct/bun)



Sumber : Radar Solo, Sabtu 15 Maret 2014