HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

NPK Pusri Di- ACC Maroko

17 Mei 2010 PALEMBANG, RP – Inilah kabar gembira bagi masyarakat Sumsel, selain pasokan gas PT Pusri mendapat perpanjangan ulang hingga 2017. Kini Pusri semakin yakin dengan di-ACC nya pasokan bahan baku untuk pengolahan pupuk NPK di pabrik pupuk NPK terbaru yang saat ini masih dalam proses tender pembangunan.

“Bangga dan senang, sudah di ACC Maroko. Mereka siap pasok bahan baku ke kita, termasuk Yordania dan Kanada pun ingin ikut memasoknya dan sekarang sedang dilakukan pembicaraan," kata Dirut PT Pusri Dadang Heru Kodri. Pada awalnya, jelas Dadang target memang Januari 2009 tapi terkendala teknis perizinan, sehingga mundur di tahun 2010 ini. Namun, sering meningkatnya permintaan dan kebutuhan pupuk majemuk di tanah air, pihaknya tetap akan merealisasikan pembangunannya paling lambat tahun depan. Saat ini, katanya Pusri masih menjalankan proses studi kelayakan yang diperkirakan selesai pada akhir tahun ini.

Permintaan NPK setiap tahun meningkat pesat. Sebelumnya hanya sekitar 700.000 ton per tahun kini mencapai 1,5 juta ton per tahun. ”Pusri sudah siapkan investasi senilai USD 6 juta, itu uang Pusri, begitu pula dengan kebutuhan pasarnya sebab NPK terus kehabisan stok di pabrik pupuk kujang maupun Petrokimia, tidak ada salahnya kita ikut produksi,” ulasnya.

Rencananya pabrik tersebut dibangun dengan kapasitas 200.000 ton per tahun. Oleh karena itu seiring dengan kebutuhan NPK pembangunan tersebut perlu dipercepat.

Sementara itu, kepala pemasaran distrik Sumbagsel PT Petrokimia Gresik Edy S mengakui pihaknya kebutuhan NPK memang belum terkaver hampir 60 persen di Sumsel. Meskipun kenaikan harga NPK saat ini tinggi. Tapi peminatnya juga masih sangat tinggi.

Kenaikan pupuk subsidi lalu menjadi cambuk bagi pupuk non subsidi ikut naik luar biasa. Seperti NPK Non subsidi sebelumnya Rp 2.300 per kilogram menjadi Rp 5.000 per kilogram. SP 36 Non subsidi sebelumnya Rp 2000 per kilogram menjadi Rp 3.800 per kilogram.

Soal bahan pupuk masih impor, menurutnya realistis karena bahan bakunya tidak ada di Indonesia. Sama seperti pembasmi rumput yang bahan bakunya masih impor.

Kelemahannya, jika harga bahan baku naik harga tersebut bisa naik sewaktu waktu. Ini hanya bisa dilakukan untuk jenis pupuk non subsidi SP 36, NPK, ZA yang pangsa pasarnya memang mereka yang mampu.

Pihaknya optimis jika ada pabrik yang ikut memproduksi NPK seperti Kujang bisa memberikan nilai lebih bagi petani juga alternatif-alternatif jenis pupuk, sehingga produksi pangan tetap terjaga. Sementara itu walikota Palembang H Eddy Santana Putra menegaskan akan terus memberikan pasokan gas sehingga produksi pupuk urea pusri tidak terkendala.

“Nah Sumsel banyak gasnya. Tidak akan kehabisan 10 tahun lagi sebab itu PT Pupuk Sriwidjaja akan terus memproduksi pupuk tersebut,” ungkap Eddy.

Pasokan gas Palembang walaupun sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan tetap terus dihemat efektif dan efisien mungkin. “Maka pasokan gas itu kami akan mencari lagi, lokasi mana masih tersimpan gas tersebut, perlu dieksploitasi lagi” ungkapnya.

Eddy mengatakan menyambut baik jika PT Pupuk Sriwidjaja akan pindah ke daerah lain. “Nah kemungkinan PT Pusri akan pindah ke Banyuasin, itu sangat bagus pindah kesana karena saat ini PT Pusri volume udara sekarang sudah tinggi”, tegasnya.

Hal senada pula diungkapkan Asisten II Apriadi S Busri. Menurutnya Pemkot akan mengusahakan untuk mendistribusikan gas ke PT Pusri “PT Pusri merupakan asset Palembang yang berharga,” ujarnya (ayu/ici)