HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Industri Sulit Capai Target 6% Tanpa Jaminan Gas

29 April 2011 JAKARTA - Menteri Perindustrian MS Hidayat menegaskan, industri nasional sulit berkembang untuk mencapai target yang ditetapkan sekitar 6% per tahun tanpa jaminan pasokan gas.

"Dalam upaya pengembangan industri, sulit untuk diperoleh hasil yang optimal sepanjang tidak ada jaminan pasokan gas," katanya pada pertemuan kalangan industri dengan regulator dan pemain gas di Jakarta, Jumat, yang dihadiri Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo dan Dirut Pertamina Karen Agustiawan.

Pada 2010, kata dia, kebutuhan gas untuk industri mencapai 2.800 mmscfd (juta standar metrik kaki kubik per hari), namun pasokan gasnya masih di bawah itu sehingga sulit bagi industri untuk berkembang dan berdaya saing.

“Padahal pada 2010 sampai 2014 Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan industri rata-rata mencapai di atas 6% per tahun,” katanya.

Pada 2010, pertumbuhan industri hanya mencapai 5,1%. "Pertumbuhan industri yang berdaya saing tinggi dan berkesinambungan sangat tergantung pada dua faktor kunci yaitu ketersediaan bahan baku dan pasokan energi," ujar Hidayat.

Oleh karena itu, ia berupaya melakukan berbagai hal di antaranya mempertemukan para regulator dan pemain gas nasional dengan kalangan industri guna memberikan jaminan dan menambah pasokan gas ke industri terutama di Jawa dan Sumatera.

Ia juga mengatakan untuk menanggulangi kekurangan gas ada dua investor nasional yang meminta izin untuk mengimpor gas bagi kepentingan industri.

Hidayat mengemukan pada pertemuan itu, kalangan industri bersedia membeli gas dengan harga komersial, selama ada jaminan pasokan sesuai kebutuhan.

Namun, ia mempertahankan harga gas untuk industri pupuk tetap dikecualikan dari harga gas komersial karena industri pupuk yang dikelola BUMN harus menjamin ketahanan pangan di dalam negeri.

"Untuk industri pupuk, (harga gas) itu memang tidak bisa ditetapkan secara commercial rate, (harus) sedikit di bawahnya karena industri pupuk memasok ketahanan pangan," ujarnya.

Ia mengakui selama ini harga gas untuk industri pupuk masih ada yang di bawah harga gas rata-rata, yaitu US$ 5,5 per mmbtu.

Harga gas untuk PT Pupuk Sriwijaya, misalnya, seperti yang dikemukakan Dirut Pertamina Karen Agustiawan, ada yang hanya US$ 1,5 per mmbtu.

Karen juga menegaskan, akan berupaya mendapatkan pasokan gas lebih banyak dan meminta kalangan industri memahami bahwa ada biaya yang cukup besar untuk membawa gas ke konsumen.

Sementara kalangan industri sendiri melalui Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) mengatakan bersedia membeli gas dengan harga komersial sepanjang produsen dan pemasok gas seperti Pertamina dan PGN mampu menjamin kepastian pasokan.

Sekjen FIPGB Ahmad Wijaya mengatakan selama ini pasokan gas dari PGN tidak stabil. Dari permintaan 100%, kadang yang dipasok hanya 68%, bisa juga naik 70%, namun kemudian turun 58%. (gor/ant)